Silaturace dan Hitchhike Pertamaku

IMG-20170521-WA0025

“Cil, masa kita setim di Silaturace. Sama Yusoen juga.” Malam itu tiba-tiba Karet mengirimkan whatsapp padaku dan mengabarkan kalau kami akan berada dalam satu tim saat mengikuti event Silaturace yang diadakan oleh BASKOM (Bakti Sosial Lintas Komunitas). Aku kaget, namun tak berapa lama tertawa. Ya ampuuun nggak kemana nggak dimana ketemunya Tektok Team lagi! Padahal pembagian kelompok ini dikocok secara adil lho saat meeting para peserta Silaturace di Roti Bakar Ghifari, Tebet, 2 hari sebelum event dilaksanakan.

Silaturace adalah sebuah acara yang diadaptasi dari Amazing Race dimana peserta diwajibkan menyelesaikan petunjuk dan tantangan dari pos pertama ke pos selanjutnya. Acara ini mengusung konsep kolaborasi antar komunitas dan bertujuan untuk meningkatkan tali silaturahmi. Ada beberapa komunitas yang berkolaborasi untuk mengadakan event kali ini, antara lain Backpacker Indonesia Jabodetabek, Backpacker Jakarta, Tektok Team, Jalan Pendaki, Hammockers Indonesia, Hitch Hiker Indonesia, Backpacker Society, Pendaki Cantik, Sahabat Relawan, dan lainnya. Saat mengikuti Silaturace, para peserta diwajibkan membawa satu buku bacaan untuk disumbangkan ke taman-taman baca yang ada di seluruh Indonesia melalui event 1000 Buku Klub Buku & Blogger Backpacker Jakarta.

***

Silaturace seharusnya dimulai jam 8, namun kini jam telah bergerak melewati angka 9. Dua orang peserta, Maman dan Mahmud, masih belum tiba di starting point yaitu Monas. Karena beberapa orang berhalangan hadir, akhirnya tim yang kekurangan anggota dikocok ulang, sehingga terbentuklah 8 tim yang masing-masing beranggotakan 3 orang. Karet, Yusoen, dan aku tetap berada dalam satu tim yang kami namakan Funtastic, dengan Yusoen sebagai ketua.

Lima belas menit menuju jam 10, Maman dan Mahmud tiba. Tanpa mengulur waktu, seluruh anggota Silaturace diberikan petunjuk permainan, bekal selama di perjalanan, dan uang saku sebesar 15000 rupiah per orang.

Bisa kalian bayangkan bagaimana caranya keliling Jakarta dengan uang 15000? Naik angkot yang jaraknya dekat saja tarifnya 4000. Naik transjakarta 3500. Belum lagi rute yang ditempuh jauh-jauh. Terus gimana dong?

Nah, di sinilah tantangannya!

Tak ada larangan untuk menggunakan transportasi umum apapun. Namun, keterbatasan uang saku menuntut tim kami untuk hitchhike. Hitchhike adalah menumpang kendaraan tidak dikenal secara gratis dengan modal kertas atau kardus dan spidol. Jika tak memilikinya, bisa juga dengan bermodalkan jempol atau mengetuk kaca mobil.

Beruntung, pagi itu Yusoen mengingatkanku untuk membawa 10 lembar kertas dan spidol. Kertas yang kami gunakan ialah kertas bekas pakai. Sayang kan pakai kertas yang masih putih bersih hanya untuk menulis “NUMPANG”. Tahu nggak sih kalau satu pohon itu hanya bisa menghasilkan 80,500 lembar kertas? Kalau kita nggak bisa memanfaatkannya dengan baik, bisa bayangkan berapa banyak lagi pohon yang harus ditebang? Padahal kita bisa bernapas saat ini karena oksigen yang dihasilkan pohon.

P_20170520_104332_vHDR_Auto

Terik matahari membuat peluh membanjiri tubuh kami siang itu. Aku tetap mengangkat tinggi kertas bertuliskan “NUMPANG TAMAN MENTENG”. Ini kali pertama aku hitchhike, sedangkan Yusoen dan Karet sudah pernah mencoba hal ini sebelumnya. Meski awalnya rasa malu terbersit di hati, tapi lama-kelamaan perasaan itu lenyap. Yah, daripada nggak dapat tumpangan. Hehe.

Jarum jam terus bergerak maju. Karena tak kunjung mendapatkan tumpangan, kami memutuskan untuk berpindah tempat ke depan Galeri Nasional. Sekitar lima belas menit kemudian, dua orang driver ojek online menawarkan tumpangan gratis kepada kami. Yeay! Karet dan aku naik terlebih dahulu, sedangkan Yusoen menyusul setelah dua menit kemudian bertemu dengan driver ojek online lain yang bersedia memberinya tumpangan.

Pos 1 Taman Menteng, Jakarta Pusat

Tak lama, kami tiba di Taman Menteng dan segera berlari menuju lapangan basket, tempat dimana Pos 1 berada. Namun, tak seorangpun kami temui. Kami memutuskan untuk berpencar dan akhirnya bertemu dengan Payjo, petugas Pos 1, dekat dengan bangunan rumah kaca.

P_20170520_110203_BF

“Apa ini ya? Taman Arion? Pemuda?” Yusoen menunjukkan secarik kertas yang berisi petunjuk pos berikutnya.

“Bentar, cek google.” kataku sembari memainkan jari di layar smartphone guna mencari petunjuk.

Setelah menemukan informasi yang dicari, kami segera menuliskan “NUMPANG KOTA KASABLANKA” dan bergegas menuju trotoar depan Taman Menteng untuk mencari tumpangan. Kurang lebih 20 menit berlalu. Tapi, tak ada satupun kendaraan  yang bersedia menawarkan tumpangan pada kami.

P_20170520_111431_BF

Karena penantian tak kunjung terjawab, akhirnya kami memilih jalan kaki ke Jalan Imam Bonjol, kemudian mengganti rute tujuan menjadi Cikini atau Salemba.

Tak butuh waktu lama, seorang ibu membuka kaca mobilnya dan menawarkan tumpangan. Adalah Ibu Novianti, suami, beserta dengan anak laki-lakinya yang hendak ziarah ke makam keluarga di Jakarta Timur memberikan tumpangan karena melihat nametag yang kami kenakan.

“Saya tadi liat nametagnya, jadi saya pikir pasti kalian lagi ada acara. Karena temen saya juga ada yang suka ikutan acara komunitas gitu. Kalian kalo ada baksos gitu, saya mau lho ikutan.” jawab Ibu Novianti, yang sontak membuat kami terharu. Setelah berbincang-bincang dan melihat antusias beliau yang ingin berpartisipasi jika ada acara bakti sosial komunitas, kami akhirnya saling bertukar akun instagram.

P_20170520_112900_BF

Pos 2 Taman Pemuda Arion, Rawamangun, Jakarta Timur 

Games yang harus kami selesaikan di Pos 2 adalah “ngesot” dari pohon satu ke pohon lain yang berjarak kurang lebih empat meter. Tak hanya itu, kedua kaki harus diletakkan di atas paha teman yang berada di depan kami. Kami mengatur strategi. Yusoen berada di depan, aku di tengah, dan Karet di belakang. Rasanya? Hmm, mungkin kamu bisa coba sendiri. Yang pasti tim kami tak bisa berhenti tertawa saat melakukan games ini. Hahaha.

Untitled

Setelah menyelesaikan games, kami mendapat petunjuk dimana letak Pos 3. Tanpa membuang-buang waktu, kami segera menuliskan “NUMPANG MANGGARAI”. Hanya 5 menit menunggu, kami segera mendapatkan sebuah tumpangan dari Bapak Stefanus yang setiap hari selalu melewati jalur ini.

P_20170520_121200_BF

“Kok mau numpangin kami, Pak?” tanya Karet berbasa-basi.

“Ya penasaran aja. Saya sering lewat sini, tapi baru kali ini liat ada yang numpang.” jawabnya santai.

Kami saling berpandangan satu sama lain. Begitu mudah rezeki yang kami dapatkan hari ini. Dan lagi-lagi, kami diantarkan hingga ke tempat tujuan.

Pos 3 Taman Honda, Tebet, Jakarta Selatan

Setiba di Taman Honda, kami bergegas mencari petugas Pos 3. Ada Bang Sulham, Kak Ninuk, dan yang lainnya di sana.

“Jadi, saat gue bilang gajah, kalian harus bilang besar sambil menjentikkan jari. Saat gue bilang semut, kalian harus bilang kecil sambil melebarkan kedua tangan membentuk lingkaran besar. Terus kalo gue bilang ular, kalian harus bilang panjang tapi kedua telapak tangan hanya berjarak sedikit menandakan pendek. Kalo gue bilang cacing, berarti kebalikannya ya. Ngerti kan? Yuk, tes yuk.” jelas Bang Sulham.

Kamipun mengangguk tanda mengerti. Duh, deg-degan nih!

“Gajah…” Bang Sulham memulai games. Baru percobaan awal dan salah satu dari tim kami melakukan kesalahan. Pun demikian pada percobaan kedua dan ketiga. Namun, kami tak menyerah! Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya kami berhasil menyelesaikan games ini dan mendapatkan petunjuk dimana pos selanjutnya.

P_20170520_124313_BF

Tanpa membuang-buang waktu, kami segera mencari tumpangan. Hanya sekitar 5 menit menunggu, kami mendapati seorang wanita muda melongokkan kepalanya dari dalam mobil. Karet yang melihatnya segera memberitahukan Yusoen dan aku, kemudian kami hampiri mobil tersebut. Mbak Gissa dan Mas Benny yang hendak menuju Daan Mogot dengan kerendahan hati menawarkan tumpangan, bahkan mengantarkan kami hingga tiba di depan Taman Cattleya.

P_20170520_130208_BF.jpg

Iseng, kami menanyakan alasan mereka memberi tumpangan pada kami. Jawabannya singkat, karena searah. Mbak Gissa dan Mas Benny, mereka adalah sepasang kekasih dengan pemikiran positif. Tak sedikitpun berpikir kami memiliki maksud buruk saat menumpang kendaraannya.

Pos 4 Taman Cattleya, Tomang, Jakarta Barat

Games yang harus diselesaikan di Pos 4 terbilang tak sulit. Kami hanya perlu mengumpulkan tiga sampah anorganik yang ada di taman ini dengan cara estafet. Aku, sebagai orang pertama bertugas mencari sampah anorganik, kemudian berlari menuju ke belakang kolam taman untuk mengoper sampah tersebut kepada Karet yang telah menunggu di sana. Setelah itu, Karet berlari menuju titik dimana Yusoen telah menunggu dan mengoper sampah tersebut. Yusoen yang telah menerima sampah estafet dari kami, harus segera berlari ke titik awal untuk mengantarkan sampah tersebut pada petugas. Satu sampah, satu kali lari estafet. Jadi, tiga sampah yang dikumpulkan menandakan kami harus melakukan tiga kali lari estafet. Duh, mana matahari semakin tak bersahabat siang itu!

P_20170520_134108_vHDR_Auto

Tapi, percaya deh perjuangan pasti selalu membuahkan hasil. Jam 2 kami sudah berhasil menyelesaikan 4 pos, sedangkan tim lain masih berkutat di Pos 3. Setelah mendapatkan petunjuk keberadaan Pos 5, kami beristirahat sejenak di pelataran Taman Cattleya. Kami baru ingat kalau sedari tadi perut kami belum terisi apapun kecuali susu dan teh. Kasihan sekali cacing-cacing yang mulai mengganas di perut kami ini.

Tantangan terberat kami adalah menuju Pos 5. Berkali-kali mencari tumpangan di lima tempat yang berbeda, namun tak seorangpun menggubris. Rencana konyol membuat orang iba karena melihat kulit kami yang memerah dipanggang matahari pun kandas. Hiks.

P_20170520_135849_BF

Target waktu yang selalu kami tetapkan untuk menunggu “tumpangan” berkali-kali harus kami ulur. Namun tiba-tiba saja, Yusoen mendapatkan ide untuk menumpang Kopaja 88 hingga Grogol. Dan, terlaksanalah ide tersebut saat sang kenek Kopaja bersedia memberikan tumpangan pada kami. Aaargh, akhirnyaaa! Kami tertawa lega, meskipun harus disindir oleh sopir Kopaja yang sepertinya tak senang karena kami hanya “menumpang”.

P_20170520_143435_BF

Tiba di Grogol, kami melanjutkan mencari tumpangan menuju Taman Waduk Pluit. Cukup lama kami menunggu di sini, namun lagi-lagi kami harus menghadapi kenyataan pahit tak mendapatkan tumpangan. Hiks. Tiba-tiba saja, secercah cahaya muncul di kegelapan. Seorang sopir angkot B01 menawarkan tumpangan pada kami.

P_20170520_150648_BF

“Makasih banyak ya, Pak, sudah mau memberi kami tumpangan. Ngomong-ngomong, kenapa Bapak mau memberikan kami tumpangan?” Karet bertanya, menepis hening.

“Sebenernya udah seminggu ini saya sepi penumpang. Tapi yah, karena ada yang lagi butuh pertolongan, masa saya nggak bantu? Sesama manusia kan harus saling membantu.” jawab bapak sopir, yang kemudian diketahui bernama Pak Ade ini.

Ucapannya yang sederhana seakan menjadi tamparan keras bagi kami. Bahwa dalam keadaan sesulit apapun, kita harus tetap berbagi. Sederhana, namun pada kenyataannya hal ini memang sangat sulit untuk diterapkan dalam kehidupan kita sebagai makhluk sosial.

Pos 5 Taman Waduk Pluit, Jakarta Utara

“Wah rame! Mana tamannya luas banget.” kataku sembari memerhatikan kondisi sekeliling yang dipenuhi oleh hiruk pikuk manusia. Ternyata sedang ada perayaan Hari Pencanangan HUT DKI ke-490 yang dihadiri oleh Plt Gubernur DKI Jakarta, Bapak Djarot. Pantas saja ramai.

Kami bertiga memutuskan berpencar, mencari keberadaan Pos 5. Cukup lama kami mencari, tapi kerumunan manusia membuat kami kesulitan menemukannya. Berbekal foto yang diunggah tim lain di grup whatsapp Silaturace, kami akhirnya menemukan keberadaan Pos 5 setelah bertanya pada satpam.

Games terakhir di pos ini adalah menjawab 3 buah teka-teki yang diberikan panitia. Jika bisa menjawabnya, kami tak perlu melakukan games estafet kelereng dengan sendok. Namun jika tidak bisa menjawab dengan benar, kami harus melakukan estafet kelereng. Satu jawaban salah, maka satu kali estafet kelereng. Jika ketiga jawaban salah, maka kami harus melakukan estafet kelereng tiga kali.

“Ada seorang pencuri. Ia ingin masuk ke sebuah rumah, tapi rumah itu kosong. Nggak ada jendela dan pintu. Gimana cara malingnya masuk rumah tanpa melalui atap?” petugas pos memberikan pertanyaan demikian pada kami.

Satu menit waktu yang diberikan kepada kami berakhir dengan cepat. Karet, Yusoen, dan aku saling berpandangan. Aku hanya mengangkat bahu, pertanda tidak tahu jawaban dari pertanyaan tersebut.

“Kan rumah kosong. Ngapain dimasukin?” Yusoen mencoba menjawab.

“Bener nih ya? Kunci nih ya jawabannya.” petugas pos meyakinkan kami.

“Iyaaa.” jawab Yusoen.

“Jawabannya… Ya tinggal masuk aja, kan nggak ada jendela sama pintu.”

Aku terhenyak. Lah gitu doang jawabannya? Kok bikin kesal ya, hahaha.

Hanya pertanyaan kedua yang bisa kami jawab dengan benar. Karena itu, kami harus melakukan estafet kelereng dua kali.

Tak terasa, jarum jam terus bergerak menuju angka 4. Games terakhir telah berhasil kami selesaikan. Dari delapan tim hanya dua yang berhasil menyelesaikan keseluruhan pos, yaitu Funtastic dan Cabe-cabean. Yeaaay! Saatnya kembali ke finish point di Monas.

Uang saku yang belum terpakai akhirnya kami gunakan untuk ongkos bus dari Taman Waduk Pluit menuju Pasar Senen sebesar empat ribu rupiah. Setelah itu, lagi-lagi kami mencoba hitchhike dan berhasil mendapatkan tumpangan. Lucky!

P_20170520_171844_BF

Setelah seluruh tim berkumpul dan berfoto di depan Kandang Rusa Monas yang menandakan peserta telah menyelesaikan semua tantangan, kami beranjak menuju Bumi Perkemahan Ragunan untuk bercengkerama dengan berbagai komunitas yang akan menginap malam itu dalam acara Silaturasa. Tak hanya bercengkerama, ada juga Talk Show mengenai sampah bersama dengan AcenSatya Winnie, dan Greenpeace Indonesia. Oh iya, Bang Sulham sebagai Kapten Tektok Team juga angkat bicara lho mengenai tim kami yang kalau tektok gunung tidak menghasilkan banyak sampah. Hehehe.

Nah, kamu penyuka jalan-jalan tentu juga harus aware dengan sampah yang ada di sekitar dong. Pasti kesal rasanya saat berkunjung ke tempat dengan pemandangan yang indah, tapi tiba-tiba momen tersebut rusak karena banyak sampah berserakan di sekitar. Nggak banget deh! Karena itu, yuk kita mulai peduli dengan kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Oh iya, jangan lupa bawa tumbler juga kalau bepergian. Hal ini memang sederhana, tapi efeknya luar biasa karena dapat mengurangi limbah sampah plastik yang sulit terurai.

***

Malam berganti siang. Setelah berpesta api unggun semalam, hari ini pengumuman pemenang Silaturace dibacakan. Tim Funtastic menempati juara pertama dan mendapatkan hadiah trip ke Pahawang. Juara kedua diraih oleh Tim Cabe-cabean dan mendapatkan hadiah trip ke Sangiang, sedangkan predikat peserta terbaik diraih oleh Lele yang mendapatkan hadiah trip ke Jogja. Ketiga hadiah ini disponsori oleh Backpacker Jakarta. Yeaay! Selamat kepada seluruh pemenang! Tak lupa, terima kasih kepada teman-teman dari berbagai komunitas, panitia acara, dan orang-orang yang telah berbaik hati memberikan kami tumpangan.

IMG-20170521-WA0035

“Winning and losing doesn’t have any meaning, because some people win by losing and some lose by winning” -Unknown-

Advertisements

8 thoughts on “Silaturace dan Hitchhike Pertamaku

  1. Acaranya seru banget yaa. Dan pasti ga pernah kepikiran buat keliling jakarta dalam waktu sehari 😀

    Selamat dapat trip ke pahawang 😀

    Like

      1. Iyaa… Rivai 😀
        Besok kalo di semarang ada acara kyak gini..jangan lupa ikutan yaa 😀

        Like

  2. Silaturace acaranya seruuuu.. *plok plok plok*
    bentrok euuuy pas tgl 20 mei itu nganter RI 1 ke Wisma Aldiron wkwkwk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s