Kebut Gunung? Siapa Takut!


Rindu. Satu kata yang menggambarkan bagaimana rasa yang selama ini kupendam akhirnya menyeruak dan membuatku memutuskan untuk kembali mendaki gunung pasca cedera tulang belakang dan tulang ekor yang kualami setahun yang lalu. Rasa takut tentu masih menyelimuti. Namun, dukungan keluarga keduaku, Tektok Team, selalu bisa menjadi obat penawar.

***

Tepat setahun yang lalu, aku berpartisipasi dalam Kebut Merapi 2016. Dan tahun ini, aku kembali mengikuti Kebut Gunung Merapi-Merbabu 2017. Ini menjadi pendakian perdana yang juga bisa dijadikan tolak ukur bagaimana kondisi tubuhku saat ini. Apakah tulang belakangku akan baik-baik saja melewati jalur berbatu, terjal, naik dan turun lereng Merapi dan Merbabu? Apakah aku sanggup menyelesaikan lomba ini hingga garis finish? Apakah aku akan menyusahkan teman satu timku nanti? Begitu banyak tanya terperangkap dalam kepala, dan jawabannya hanya bisa ditemukan jika aku mencoba mendaki lagi.

Kebut gunung yang diadakan oleh pemerintah Kabupaten Boyolali tahun ini memiliki konsep yang berbeda. Jika tahun sebelumnya pemenang lomba adalah yang tercepat tiba di garis finish, tahun ini pengetahuan mengenai tempat-tempat wisata di Boyolali, ketepatan waktu, dan kekompakan serta keutuhan tim juga akan dinilai. Bisa dibilang, kebut gunung tahun ini mengusung tema lomba lintas alam dengan menyusuri rute lereng Merapi dan Merbabu sepanjang kurang lebih 20 kilometer. Waktu yang diberikan panitia untuk menyelesaikan lomba ini adalah 7 jam.

Kami berdua belas terbagi dalam tiga tim yang masing-masing harus terdiri dari minimal satu anggota perempuan. Tim pertama terdiri dari empat anggota Tektok Team dengan “kaki racing”, yaitu Kapten Sulham, Uni Iis, Albert, dan Yadi. Tim kedua, yang juga memiliki kecepatan cukup mumpuni saat mendaki terdiri dari Bang Maman, Koko Daniel, Karey, dan Bang Halim. Sedangkan tim ketiga terdiri dari dua anak pasca cedera, Mahmud dan aku, serta suhu gunung Mas Indra dan Karet yang bahkan baru saja pulang dari Ranu Kumbolo seminggu sebelumnya. Karet, Mahmud, dan aku menjuluki tim kami “Tim Hore” karena kami tak bertujuan menjadi pemenang, melainkan berfoto dengan latar keindahan Merapi dan Merbabu. Harap maklum, pendakian ini semacam pengobat rindu bagiku dan Mahmud yang sudah lama tidak mendaki. Hehehe.

Usai mengikuti apel pagi di lapangan Desa Samiran, Selo, dan memastikan seluruh perlengkapan seperti alat tulis, ID Card, dan lembar check point sudah kami bawa, lomba pun dimulai.

Pos 1 Pertigaan Rumah Kades Suroteleng

Menyusuri jalan pedesaan menuju lereng Merapi sisi timur wilayah Desa Suroteleng, perjalanan menuju Pos 1 memakan waktu tak sampai dua jam. Pada awal pendakian, jalan beraspal masih mendominasi hingga akhirnya berganti menjadi jalur dengan trek tanah. Megahnya Merapi dan Merbabu yang menjulang di sisi kiri dan kanan mengiringi langkah kami menuju pos berikutnya.

IMG-20170731-WA0152

Pos 2 Bukit Batur

Menuju Pos 2, trek tanah, lahan pertanian warga, dan hamparan bukit nan hijau mendominasi. Komoditas utama yang ditanam warga di lereng Merapi antara lain tembakau, sawi, wortel, dan tanaman hortikultura lainnya. Melewati jalur ini, kita dapat melihat Kawasan Observasi Elang Jawa (Spizaetus bartelzii). Elang-elang yang bersarang di tebing sisi kiri dan berseberangan dengan jalur pendakian ini berjumlah tidak sampai 20 ekor.

Kuedarkan pandang ke sekeliling, berharap bisa menyaksikan burung yang merupakan lambang negeri ini dan juga dilindungi karena populasinya yang semakin langka dan sulit berkembang biak. Hal ini dikarenakan Elang Jawa hanya bertelur sekali dalam setahun dengan jumlah telur hanya satu butir.

“Tadi baru keluar Mbak, nunggu lagi entah kapan keluarnya.” Jawab seorang panitia, setelah kulemparkan tanya kapan mereka akan menampakkan wujudnya.

Sirna sudah harapanku melihat mereka mengepakkan sayap di habitat aslinya. Dengan gontai aku kembali melanjutkan perjalanan. Karet dan Mas Indra telah berjalan di depan, mendahuluiku dan Mahmud yang berhenti selama beberapa menit di gardu pandang.

“Cie udah seger nih yee.” Kataku pada Karet yang mulai kembali bersemangat. Padahal sedari tadi wajahnya pucat dan hanya terdiam. Ia membalas dengan menjulurkan lidah. Ah, lega rasanya melihat wajahnya kembali ceria.

Tak jauh dari Konservasi Elang Jawa, kami melewati sebuah Goa Jepang. Namun demi mempersingkat waktu, kami memilih untuk tak berlama-lama di tempat ini. Bahkan, kami lupa mengabadikannya dalam bentuk foto. Hahaha.

wp-image-1587403532
Goa Jepang (Tektok Team 2)

Pos 2 hanya tinggal berjarak beberapa meter saja. Sebelum tiba di tempat tersebut, pohon-pohon dengan papan bertulisan unik sempat mencuri perhatian kami.

P_20170723_102703_BF

P_20170723_102751_BF

Tiba di Bukit Batur, kita dapat menyaksikan keanggunan Gunung Merbabu melalui sebuah gardu pandang yang mulai dibuka sejak bulan Agustus 2016. 

P_20170723_103426_vHDR_Auto
Nasib jadi Cinderella, dibully kakak tiri 😢

P_20170723_104100_vHDR_On

Setelah melewati Pos 2, jalan menanjak dengan kemiringan kurang lebih 70 derajat telah menanti kami. Tanjakan ini dinamakan tanjakan langit. Sungguh, trek ini menguras begitu banyak tenaga kami.

Pos 3 Dk. Tegalsruni

wp-image-1181874834
Watu Blerek (maafkan ke’alay’an kami)

Melewati Pos 3 menuju lereng Gunung Merbabu, nafas kami mulai tersengal. Pun begitu dengan langkah kaki yang mulai terseok-seok. Kondisi Karet kembali tak stabil. Wajahnya memucat. Tak sedikitpun senyum tersungging di bibirnya, meski sedari tadi Mahmud dan aku berusaha melempar lelucon.

Perlahan, kami berjalan mendahului Karet dan Mas Indra. Membiarkan waktu hanya menjadi milik mereka, sedangkan Mahmud dan aku bagai jelmaan butiran pasir di jalur Merbabu. Dilupakan dua insan yang sedang dimabuk asmara.

Tiba-tiba, kabut tebal menghalau pandang.

“Cil, gue merinding masa.” Mahmud membuka suara.

Aku terdiam.

“Karet, Mas Indra, jalan yuk. Pelen aja tapi bareng-bareng, kabutnya tebel banget.” kataku sembari berjalan mendekat ke arah Mahmud.

Kugenggam tangan Mahmud erat, lalu kuusap punggung tangannya. Berharap ia bisa lebih tenang.

“Gue nyium sesuatu…” katanya lagi.

“Udah, ntar aja.” jawabku.

Kabut tebal yang menyelimuti lereng Merbabu membuat kami bergidik. Hawa di sekeliling kami seakan berubah. Menjadi begitu mencekam. Perasaanku mulai gelisah. Ada sebuah suara samar tertangkap oleh telingaku. Ia berasal dari sisi kanan, dan jurang terjal ada di sisi kiri kami. Entah suara apa, tapi ia menyerupai suara tawon atau kumbang.

Setelah jarak Karet dan Mas Indra hanya tinggal beberapa sentimeter dengan Mahmud dan aku, kami kembali melanjutkan perjalanan. Mahmud bercerita ia seperti mencium bau sangit tadi. Ah biarlah, yang penting kabut tebal bisa kami lewati.

Pos 4 Bukit Gancik

Sebelum menuju Gancik Hill Top, kami melewati Gardu Pandang Alam Sutra. Pemandangan yang ditawarkan cukup memanjakan mata. Desainnya yang terbuat dari bambu pun terbilang unik menurutku. Yah, bila dinilai menurut generasi sekarang, tempat ini instagramable banget.

wp-image-795231318

Dua puluh menit menuju cut off time, kami baru tiba di Gancik Hill Top. Mustahil rasanya untuk tiba tepat waktu di garis finish. Tapi ya sudahlah, sejak awal memang kami tak mengejar apapun bukan?

Kondisi Gancik Hill Top ini sungguh padat merayap. Banyaknya orang yang berlalu-lalang mengabadikan berbagai pose di setiap sudut gardu pandang membuat kami enggan melebur dan memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan.

wp-image-2064431761
Gancik Hill Top (Tektok Team 1)

Lutut kanan yang mulai merintih dengan berat hati kupaksa menuruni jalur aspal menuju Lapangan Desa Samiran yang tak hanya sebagai titik awal, melainkan juga menjadi titik akhir Lomba Kebut Gunung 2017. Beruntung, Mahmud dengan sigap menggenggam tanganku yang memilih berjalan mundur agar lutut yang tengah merintih ini tak semakin parah kondisinya.

Tujuh jam berlalu begitu cepat. Meski tiba di garis finish melewati batas waktu yang telah ditentukan, namun tak sedikitpun penyesalan menyusupi hati. Karena prinsip kami hanya satu. Berangkat sebagai tim dan pulang sebagai tim.

IMG-20170724-WA0003

Terima kasih untuk kebersamaannya, Tektok Team! Terima kasih Merapi dan Merbabu, kalian sukses membuatku semakin rindu mendaki.

 


Foto : dokumentasi Tektok Team

Advertisements

40 thoughts on “Kebut Gunung? Siapa Takut!

  1. Wah Lis, luar biasa sekali anda. Saya ngebayanginnya aja udah capek duluan. Anyway, kamu nikmati gak sih setiap langkahnya? Karena kamu kan diburu waktu.

    Like

  2. Waaah.. merbabu via gancik yaa mbak, saya ke merbabu bulan kemarin via selo.
    keren.. kapan2 ajak anak kubbu naik gunung mbak. 😁

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s