Waerebo, Indahnya Desa di Atas Awan

Neka hemong kuni agu kalo” – Jangan lupakan tanah kelahiranmu

(Pepatah Manggarai)

 

17-10-16-09-06-32-793_deco-01

Kuhirup dalam aroma teh yang disediakan mamak bagiku. Kutangkupkan jemari di gelas yang masih hangat, berupaya menampik dinginnya malam yang kian mendekap tubuhku. Dua jam lalu, akhirnya aku menjejakkan kaki di sini. Di desa yang sudah sejak lama menjadi salah satu destinasi impianku. Desa di atas awan. Waerebo.

***

 

Setelah melewati perjalanan naik, turun, berkabut, dan berliku-liku selama kurang lebih dua jam dari Denge, desa terakhir sebelum menuju Waerebo, akhirnya aku dan teman-teman tiba di Pos 2 atau yang biasa dikenal dengan Rumah Kasih Ibu. Perjalanan terbilang singkat berkat adanya ojek yang mengantarkan kami hingga tiba di Pos 1. Alasan menggunakan ojek sederhana. Tak ada seorang pun dari antara kami yang membawa senter. Padahal, jarum jam telah melesat melewati angka 3 dan kami harus tiba di Desa Waerebo sebelum malam menjemput.

P_20170814_144631_vHDR_On
7 Pesan masyarakat Waerebo yang terpampang di Pos 1

Bangunan berbentuk rumah panggung dan beratapkan ijuk ini menyimpan sebuah alat musik tabuh berbentuk menyerupai kentongan yang harus dibunyikan sebagai tanda akan ada tamu yang datang ke Desa Waerebo. Dan, mulai dari sini pula aku dan teman-teman diberi wejangan untuk tidak mengambil gambar apapun hingga ritual doa Waelu’u selesai dilakukan.

 

P_20170814_165320_vHDR_On
Pos 2 : Rumah Kasih Ibu

NIANG GENDANG

Setiba di pelataran desa yang terletak di ketinggian 1200 mdpl, kami diajak menuju Niang Gendang, atau dikenal juga sebagai Rumah Gendang. Bangunan ini merupakan pusat dari semua rumah di Desa Waerebo. Rumah Gendang memiliki dua bagian yang berbeda fungsi. Rumah bagian belakang digunakan oleh para ibu atau wanita Waerebo untuk melakukan aktivitas siang dan malam, seperti memasak, mencuci piring, dan lain-lain. Sedangkan bagian depan digunakan untuk tempat tinggal para tamu dan sebagai tempat untuk melakukan musyawarah atau memecahkan masalah yang berkaitan dengan budaya adat Manggarai.

P_20170814_192456_NT
Mamak yang sedang menyiapkan makan malam

ADAT ISTIADAT DAN KEPERCAYAAN

Penduduk Desa Waerebo menganut agama Katolik. Meski demikian, mereka tetap memegang teguh adat istiadat dan tradisi yang diturunkan oleh leluhur mereka, Empo Maro, yang berasal dari Minangkabau.

Setelah rombongan kami berkumpul dan memberikan retribusi untuk menginap sebesar 325,000 per orang, ritual doa Waelu’u segera dilakukan. Dalam ritual ini, Pak Alex selaku Tua Golo* menyampaikan doa kepada leluhur agar para pengunjung yang datang menjadi bagian dari Desa Waerebo. Jadi selama di sini, kami tak lagi dianggap sebagai suku Jawa, Sumatera, atau yang lainnya, melainkan warga Waerebo. Tak hanya itu, beliau juga memohon keselamatan kepada para leluhur agar setelah pulang dari Waerebo, kami bisa kembali dengan selamat.

MBARU NIANG

Mbaru Niang atau yang biasa disebut “rumah kerucut” terdiri dari Niang Gendang, Niang Gena Pirung, Niang Gena Jintam, Niang Gena Maro, Niang Gena Mandok, Niang Gena Jekong, dan Niang Gena Ndorom yang masing-masingnya memiliki diameter yang berbeda-beda. Niang Gendang dihuni oleh 8 kepala keluarga, sedangkan Niang Gena dihuni oleh 6 kepala keluarga.

Masing-masing Mbaru Niang memiliki 5 lantai dengan fungsi yang berbeda-beda, yaitu:

Lantai 1 (Lutur) digunakan sebagai tempat hunian.

Lantai 2 (Loteng atau Lobo) digunakan sebagai tempat menyimpan hasil ladang, seperti kopi, jagung, padi, dan lainnya.

Lantai 3 (Lentar) juga digunakan sebagai tempat penyimpanan hasil ladang, apabila lantai 2 telah terisi penuh.

Lantai 4 (Lempa Rae) digunakan sebagai tempat menyimpan benih untuk musim tanam tahun berikutnya.

Lantai 5 (Hekang Kode) digunakan sebagai tempat menyimpan sesajen kepada leluhur. Tempat ini sangat disakralkan oleh warga Desa Waerebo. Dan, di lantai ini juga terdapat “Langkat”, benda yang digunakan untuk memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa dan para leluhur untuk para penghuni rumah serta tamu yang hilir mudik ke rumah.

P_20170815_065723_vHDR_On
7 Mbaru Niang yang mengelilingi compang

Ketujuh Mbaru Niang ini mengelilingi sebuah altar yang disebut compang. Altar ini disakralkan secara adat oleh penduduk Waerebo. Kami tidak diperbolehkan melakukan aktivitas di sekitar compang, karena hanya orangtua yang siap memberikan sesajen kepada leluhur saja yang berhak naik ke altar tersebut.

MATA PENCAHARIAN

Mata pencaharian utama wanita Waerebo adalah menenun. Sedangkan mata pencaharian utama para pria ialah bercocok tanam. Di sepanjang jalur dari Pos 1 hingga gapura Desa Waerebo, aku menemukan tanaman-tanaman warga seperti kopi, kayu manis, dan lain-lainnya.

P_20170815_090903_vHDR_On
Biji kopi
P_20170815_094854_vHDR_On
Kayu manis yang siap untuk dijual dengan harga Rp 10,000,-/batang

Menurut Pak Bruno, pemandu kami selama di Waerebo, desa ini merupakan penghasil 3 jenis kopi, yaitu Robusta, Arabika, dan Kolombia. Kopi Kolombia yang dihasilkan ada 2 jenis, yaitu Kolombia merah dan kuning. Namun, perubahan cuaca yang begitu ekstrim tahun ini telah mengakibatkan gagal panen. Sehingga kopi yang bisa dihasilkan hanya jenis kopi Robusta dan jumlahnya pun tak seberapa.

P_20170815_075223_vHDR_On
Bermain dengan anak-anak Waerebo yang belum bersekolah. Karena di Waerebo tidak ada sekolah, anak-anak mengecap pendidikan di Desa Kombo.

Langit semakin temaram. Usai menyantap makan malam dan bersenda gurau dengan para tamu di Mbaru Niang, aku memutuskan untuk keluar dan mengintip kondisi desa di malam hari.

Kukenakan sandalku yang tengah berjejer rapi di pintu masuk ke kaki. Kususuri rerumputan gelap. Ditemani desau angin yang membuat tubuhku semakin bergidik.

Sunyi malam membuatku bungkam. Imajinasiku meliar. Ingin kusapa setiap sudut gelap yang semakin pekat, namun urung kulakukan. Aku harus menjaga lisan dan tabiatku di sini. Ini bukan teritorialku dan aku sadar harus menghormatinya. Tiba-tiba, kejadian sore tadi melintas di benakku. Saat anak-anak desa mendatangiku setengah berteriak.

“Mana permennya?!” Seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun menengadahkan tangannya padaku. Kelima temannya yang lain berdiri rapat di belakangnya.

“Aku nggak punya permen.” Terkesiap, aku menjawab pertanyaan mereka.

“Mana uangnya?!” Tanyanya lagi sambil menengadahkan tangan.

“Aku juga nggak punya uang.” Aku masih menjawab dengan santai.

“Dia nggak punya uang! Dia nggak punya permen! Huh!” Sambil mengepalkan tangan, ia melayangkan tinju ke udara.

Aku tersenyum kecut. Kubiarkan mereka pergi ke arah yang berlawanan denganku. Kemudian, kuhampiri seorang temanku yang sedang tertawa di sana.

“Kenapa lo ngasih mereka permen? Gue tadi dipalak sama mereka.” Tanpa basa-basi, aku bertanya padanya.

“Kan nggak apa-apa. Cuma permen doang.” Ia menyengir.

“Kelihatannya sepele sih, cuma permen doang. Tapi nggak sopan kan mereka sampe berani malak pengunjung lho. Inget nggak abis upacara adat tadi Pak Martin bilang jangan kasih buah tangan apapun ke anak-anak di sini? Mereka dididik untuk kerja dulu, baru dapet hadiah. Orangtua mereka nggak mau anak-anaknya jadi tukang minta-minta.” Jawabku.

“Oh iya ya? Gue nggak denger. Ya udah, maaf deh.”

Ia memasang wajah menyesal, sehingga aku pun menjadi tak enak hati. Ah, andai saja ia memerhatikan setiap wejangan yang diberikan sesaat usai upacara adat Waelu’u sore tadi, mungkin hal ini tak akan terjadi.

Angin bersilir-silir membuyarkan lamunanku. Kurapatkan jaket yang sedari tadi membalut tubuh. Kupejamkan mata. Kusesap aroma udara segar yang mengitariku. Perlahan. Dan dalam.

Kutengadahkan kepalaku ke langit. Kudapati bintang berserakan di sana. Gilang-gemilang. Ah, meski tadi mengalami hal yang mengejutkan, namun desa ini benar-benar membuatku jatuh cinta. Dengan segala kesederhanaannya.

***

P_20170815_074856_vHDR_On

Matahari enggan menyapa kami pagi itu. Kabut tebal yang menyelimuti desa, jatuh merintik bagai hujan. Dingin. Namun, senyum dan sapa warga Desa Waerebo seakan menyusup hangat ke sanubari.

 

17-10-14-00-04-52-834_deco-01
Bersama Pak Alex, kepala adat Desa Waerebo
20170815_074630-01
Bersama Pak Bruno, pemandu selama di Desa Waerebo

Pagi ini, kami akan kembali melanjutkan perjalanan. Dan sesaat sebelum meninggalkan desa, Pak Alex menyanyikan sebuah lagu perpisahan yang membuat kami begitu terharu. Beliau melantunkannya dengan sepenuh hati, hingga rasa hangat seakan menjalar di tubuhku.

 

“Bilakah kita bertemuan rasa asing, sunyi, dan terpencil

Gunung, jurang, lembah hijau jernih

Yang menghiburkan hati duka…”

 

Terima kasih atas hangatnya sapa, indahnya warna, dan pelajaran berharga yang engkau berikan, desa di atas awan. Semoga suatu saat nanti aku bisa menyapamu kembali dalam tawa dan kesunyian malam. Moheee Waerebo!* 

 


*Tua Golo : kepala adat

*Mohe Waerebo : hidup Waerebo

Advertisements

57 thoughts on “Waerebo, Indahnya Desa di Atas Awan

  1. Wew, mahal juga ya dengan retribusi segitu. Namun sepertinya mahal itu ada alasan tersendiri, agar tidak terlalu banyak juga yg berkunjung kesana. Mengingat ketradisionalan mereka bisa saja pudar dg banyaknya orang asing yg masuk.

    Like

  2. Tulisannya bagus banget. Puitis. Seneng banget bacanya, Lisa.

    Sederhana dan mengalir. Sejenak, berasa pindah dunia dari Jakarta yang pengap, ke tempat yang sejuk nan indah.

    Fotonya juga cakep-cakep. Thanks for sharing, Lisa.

    Like

  3. Lisaaa, tulsannya bagus, aku kayak lagi berada di sana. Dan ternyata hal sepele pun dampaknya cukup besar ya buat anak-anak. Padahal cuma soal permen.

    Like

    1. iya, karena itu di waerebo para orangtua menyarankan pengunjung kalo mau ngasih uang atau permen ke orangtuanya aja. kalo anak2nya udah menyelesaikan sesuatu (contoh: buang sampah atau bebersih desa) baru orangtuanya yang ngasih ke anak. tegas, tapi mendidik.
      yuk nez jalan2 bareng 🙂

      Like

    1. iya, kemarin pun aku nanya sama pemandunya kalau dari agama beda jauh. konon, agama yang dianut orang waerebo itu karena pengaruh portugis, ada misionaris yang menyebarkannya. mungkin ketika berpindah-pindah selama di flores (sebelum menetap di waerebo) mereka kena pengaruhnya.

      Like

  4. Tulisannya bagus kak lisaaa.. sukaaa, really, informatif banget. Baru tau kalo rumah di Waerebo bertingkat-tingkat. Apalagi kalo ngeliat rumahnya bukan bangunan modern, ga nyangka aja bisa sampe 5 tingkat.

    Like

  5. 325per malam kak? Total biaya buat sampe kesana kira2 berapa ya? Biar ada persiapan gt hehehe abis kan selama ini terkenal mahal.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s