Karin dan Deteksi Dini Tumor Payudara

2018_0215_09162600

“Rara…, gue diduga kena tumor ganas payudara….”

Aku tersentak. Tak ada lagi kata-kata yang terucap melalui pengeras suara gawaiku. Suara itu menjelma sunyi. Hanya sesekali isak tangis terdengar. Aku masih merekatkan telinga pada gawai yang kugenggam, mendengarkan hening di seberang sana sembari menyiapkan tas kecilku, hendak menyusulnya.

Karin, ia duduk terkulai di bangku koridor rumah sakit. Seorang diri. Aku mendekatinya perlahan, kemudian duduk di sampingnya. Namun, ia tak menoleh. Tetap saja duduk tertunduk. Rambutnya yang terurai menutupi wajahnya yang basah dengan derai air mata. Karin, ia yang biasanya selalu tertawa, kini menangis pilu di hadapanku.

Continue reading “Karin dan Deteksi Dini Tumor Payudara”

Advertisements

Tuhan, Berikan Aku Waktu Untuk Mencintainya Sedetik Lagi

39a7a8bce4566f00394f8bb00fdefea7

Angin yang berhembus di malam itu, membuat tubuhku terasa dingin. Hujan yang turun begitu deras, membuat tubuh mungilku semakin menggigil. Tapi aku tetap menunggumu di bawah sebuah payung berwarna transparan di depan stasiun. Berharap kau segera datang dan memelukku erat. Memberikan jaketmu yang berukuran dua kali lebih besar dari tubuhku untuk kukenakan, dan menggenggam erat tanganku di saku celanamu agar aku tak kedinginan.

Continue reading “Tuhan, Berikan Aku Waktu Untuk Mencintainya Sedetik Lagi”

Karena Mencintaimu Adalah Keajaiban

1538573-bigthumbnail
Source

Andai aku dapat mengulang waktu, aku memilih untuk tidak mengenalmu lebih jauh. Aku akan memilih untuk diam, menghindari tatapan matamu yang seakan membius relung jiwaku. Memilih untuk tidak meniti wajahmu dan mendapatimu tersenyum tulus padaku. Dan memilih untuk duduk berjauhan denganmu, agar suaramu tak terus menggema di telingaku.

Continue reading “Karena Mencintaimu Adalah Keajaiban”