Kebut Gunung? Siapa Takut!


Rindu. Satu kata yang menggambarkan bagaimana rasa yang selama ini kupendam akhirnya menyeruak dan membuatku memutuskan untuk kembali mendaki gunung pasca cedera tulang belakang dan tulang ekor yang kualami setahun yang lalu. Rasa takut tentu masih menyelimuti. Namun, dukungan keluarga keduaku, Tektok Team, selalu bisa menjadi obat penawar.

Continue reading “Kebut Gunung? Siapa Takut!”

Advertisements

Silaturace dan Hitchhike Pertamaku

IMG-20170521-WA0025

“Cil, masa kita setim di Silaturace. Sama Yusoen juga.” Malam itu tiba-tiba Karet mengirimkan whatsapp padaku dan mengabarkan kalau kami akan berada dalam satu tim saat mengikuti event Silaturace yang diadakan oleh BASKOM (Bakti Sosial Lintas Komunitas). Aku kaget, namun tak berapa lama tertawa. Ya ampuuun nggak kemana nggak dimana ketemunya Tektok Team lagi! Padahal pembagian kelompok ini dikocok secara adil lho saat meeting para peserta Silaturace di Roti Bakar Ghifari, Tebet, 2 hari sebelum event dilaksanakan.

Silaturace adalah sebuah acara yang diadaptasi dari Amazing Race dimana peserta diwajibkan menyelesaikan petunjuk dan tantangan dari pos pertama ke pos selanjutnya. Acara ini mengusung konsep kolaborasi antar komunitas dan bertujuan untuk meningkatkan tali silaturahmi. Ada beberapa komunitas yang berkolaborasi untuk mengadakan event kali ini, antara lain Backpacker Indonesia Jabodetabek, Backpacker Jakarta, Tektok Team, Jalan Pendaki, Hammockers Indonesia, Hitch Hiker Indonesia, Backpacker Society, Pendaki Cantik, Sahabat Relawan, dan lainnya. Saat mengikuti Silaturace, para peserta diwajibkan membawa satu buku bacaan untuk disumbangkan ke taman-taman baca yang ada di seluruh Indonesia melalui event 1000 Buku Klub Buku & Blogger Backpacker Jakarta.

Continue reading “Silaturace dan Hitchhike Pertamaku”

Merbabu dan Tektok Team Gesrek

2016_0423_12051200

Our family is a circle of strength and love. With every birth and every union the circle of love grows. Every crisis faced together make the circle stronger.” -Unknown-

Katanya, seindah apapun gunungnya, kalau teman 1 tim nggak enak, perjalanan juga jadi nggak menyenangkan. Gimana menurut kalian? Kalau aku sih sangat setuju. Buktinya aku pernah naik gunung yang sama, tapi rasanya berbeda. Lebih menyenangkan. Apalagi kali kedua mendaki gunung ini, aku bersama dengan keluarga keduaku. Tektok Team.

***

“Wah kita salah jalur nih, harusnya jalur yang tadi. Yang ini buntu.” Kata Bang Maman, team leader pendakian tektok Merbabu yang biasa kami panggil Bapak TL, sambil menyeringai dan menggaruk kepalanya.

Continue reading “Merbabu dan Tektok Team Gesrek”

Suara Tawa di Gunung Lembu

dsc01301
Tektok Team : kalau ragu pulang saja!

Perasaan rindu untuk mendaki gunung semakin sering muncul akhir-akhir ini. Iya, entah mengapa sulit sekali untuk membendungnya. Bahkan rasanya melebihi rindu akan sang mantan. Ya ampun, mantan lagi! Hahaha. Semenjak cedera tulang belakang setahun yang lalu, aku kerap kali mengutarakan hal ini kepada teman-temanku.

“Gue kangen nanjak.. Kangen banget!” 😥

Continue reading “Suara Tawa di Gunung Lembu”

Serunya Flying Fox Sepanjang 450 Meter di Pacitan

Mentari telah kembali ke peraduan, namun kami baru saja tiba di Pantai Taman yang terletak di Desa Hadiwarno Kecamatan Ngadirojo, Pacitan. Terlambat sudah untuk menikmati flying fox terpanjang di Indonesia ini, karena wahana tersebut sudah tutup sekitar pukul 4 sore. Tak putus asa, Kak Mela dan Kak Philips sebagai contact person trip kali ini mencoba bernegosiasi dengan petugas flying fox agar kami bisa menikmati wahana tersebut.

Continue reading “Serunya Flying Fox Sepanjang 450 Meter di Pacitan”

30 Jam Menggapai Puncak Arjuno-Kembar 1-Welirang

img_5682

Ini adalah kali kedua aku mendaki dengan Tektok Team, tim yang sudah seperti keluarga kedua bagiku. Banyak yang mengatakan kami keluarga gila, mendaki gunung dengan cara tektok. Berjalan hingga puncak, kemudian segera turun kembali ke basecamp tanpa menginap. Bahkan, tenda pun tak kami bawa dalam daypack kami yang rata-rata hanya berukuran 20 liter. Jika ingin beristirahat, kami hanya menggelar survive lite, saling merapatkan tubuh agar tetap hangat, dan tidur beratapkan langit yang luas. Percayalah, langit malam yang bertabur bintang juga dapat menjadi obat penawar lelah.

Continue reading “30 Jam Menggapai Puncak Arjuno-Kembar 1-Welirang”